ALKISAH zaman dahulu dikenal seorang putri cantik dari Tanjung
Iran Niru yang bernama Dayang Merindu. Puteri ini merupakan cucu dari
seorang yang disegani dan dihormati yaitu Rie Carang.
Dayang
Merindu yang digambarkan berambut panjang bak mayang terurai ini
menjalin kasih dengan jejaka tambatan hati yaitu Naring Cili yang
terkenal sakti dari Dusun Galang Tinggi. Hubungan cinta ini sudah
disepakati kedua belah pihak dan ketika masanya sang Naring Cilik akan
meminang Dayang Merindu, maka disepakati beberapa permintaan dari Dayang
Merindu, diantaranya sirih selebar Niru, pinang sebesar kulak, puyuh
setakin, dan perhiasan.
Semuanya dapat dipenuhi Naring Cili
kecuali tanduk kerbau Lambuare yang tak kuasa dicari Naring. Tetapi
bukan berarti Naring Cilik kecewa dan putus asa. Untuk mencari tanduk
kerbau itu, Naring minta bantuan Tumanggung Mintik dengan syarat mau
menyerahkan kesaktian dan disetujui Naring.
Alhasil, tanduk tersebut dapat ditemukan di wilayah Kerajaan Mataram,
tetapi itu memakan waktu berbulan-bulan sementara Dayang Merindu menanti
tanpa kabar dan kepastian dari Naring
Dayang merindu menghibur
diri bersama dayang-dayangnya yaitu mandi di sungai. Ketika mandi
disungai inilah, bokor yang berisi peralatan dan rambut Dayang Merindu
hanyut terbawa arus dan ini membuatnya sedih.
Alkisah, bokor ini
ditemukan rakyat Sunan Adi Maskayedipati (Palembang) dan langsung
diberikan kepada Sunan mereka. Sang Sunan yang melihat bokor memastikan
pemiliknya puteri yang cantik, apalagi dengan bantuan Tumanggung Mintik
dan Karangge Sintik yang mempunyai ilmu tinggi dalam melakukan
pencarian.
Alkisah, pemilik bokor ditemukan dan segera dilamar
Sunan kemudian resmi menjadi istrinya. Sementara ditempat lain Naring
Cili yang sudah menemukan tanduk kerbau yang dimaksud segera mendatangi
Dayang Merindu, tetapi ditolak keluarga Dayang Merindu karena sang
puteri sudah dipinang di Palembang.
Murkalah Naring Cili dan
segera menyusul ke Palembang. Akhirnya terjadilah pertempuran yang
banyak memakan korban nyawa. Dayang Merindu yang mengetahui hal ini,
berinisiatif daripada banyak korban, maka dirinya rela tubuhnya dipotong
dua dan itu dengan berat hati dilakukan Naring Cili. Sebelah potongan
tubuh Dayang Merindu dimakamkan di Tanjung Iran Niru, Muaraenim dan
sebelah lagi yaitu bagiang pinggang ke bawah di bawah Sunan untuk
dimakamkan di daerah Palembang.
Sriwijaya Post
No comments:
Post a Comment